Posted by : Slamet Nuridin
December 10, 2024
Pancasila sebagai entitas bangsa yakni sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan unik dan berbeda. Pancasila sebagai entitas bangsa Indonesia telah memiliki ciri khas tersendiri yakni terdapat keberagaman nilai yang terkandung di dalamnya. Pancasila sebagai identitas nasional memiliki arti yakni Pancasila merupakan ciri khas nasional dari bangsa Indonesia yang menjadikan jati diri bagi bangsa Indonesia. Tanpa Pancasila sebagai identitas nasional, Indonesia akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang besar sekaligus bangsa yang majemuk (Nurkhotimah et al, 2024). Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman hidup yang mengakar dalam setiap aspek kehidupan bangsa, termasuk pendidikan.
Proses pembelajaran yang saya idamkan sesuai dengan Pancasila sebagai pondasi pendidikan Indonesia. Pertama, pembelajaran yang sesuai nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Pancasila adalah dasar negara yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks pembelajaran, nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam setiap aspek kegiatan belajar-mengajar. Kedua, pembelajaran harus kontekstual dan berbasis budaya lokal. Pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching). Dengan pendekatan CRT, peserta didik dapat mengenal budaya lokal dan dapat mengaitkan pembelajaran yang dilakukan dengan budaya lokal. Pembelajaran menjadi lebih menarik dan peserta didik lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Ketiga, pembelajaran harus berorientasi pada keberagaman. Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya. Proses pembelajaran harus mencerminkan penghargaan terhadap keberagaman ini dengan cara menciptakan lingkungan kelas yang inklusif dan bebas diskriminasi. Keempat, menggunakan teknologi untuk untuk mendukung pembelajaran berbasis Pancasila. Tentu saja penggunakan teknologi akan mempermudah guru dalam mengajar. Selain itu, pembelajaran menggunakan teknologi akan menjadi lebih menarik. Kelima, penguatan karakter melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Tentu saat ini kegiatan P5 secara umum masih perlu dikaji kembali. Namun, menurut saya banyak hal-hal positif yang didapatkan dari kegiatan P5 ini sehingga kegiatan P5 harus dimaksimalkan kembali dalam hal implementasinya.
Berikut beberapa contoh implementasi yang dapat diterapkan selama pembelajaran. Pertama, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan di awal pembelajaran. Kedua, lagu daerah digunakan sebagai ice breaking. Ketiga, guru memasukan budaya lokal ke dalam materi ajar. Keempat, permasalahan yang diberikan kepada peserta didik lebih kontekstual sesuai dengan latar belakang budaya peserta didik. Kelima, guru atau peserta didik menggunakan pakaian adat selama proses pembelajaran. Keenam, guru memberikan video motivasi yang berkaitan dengan nasionalisme. Ketuju, guru melibatkan masyarakat ke dalam pembelajaran agar pembelajaran lebih kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, peserta didik juga dilatih untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi, proses pembelajaran ini diharapkan mampu untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga berkarakter kuat, menjunjung nilai-nilai bangsa, dan siap berkontribusi dalam pembangunan Indonesia yang lebih baik.
Daftar Rujukan
Nurkhotimah, R., Angreska, R., Dewi, R. O., Aulia, R. Y., & Anjani, R. (2024). Pancasila Sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran yang Berpusat Pada Peserta Didik Di SDN 73 Kota Jambi. Journal Of Social Science Research, 3650-3660.
