Pernahkah kalian mendengar syair di atas ? Beberapa dari kalian mungkin pernah mendengar syair di atas. Saya mendengar syair di atas ketika saya masih mengaji di majelis ta’lim. Guru ngaji saya mengajarkan syair tersebut. Sya’ir di atas termuat dalam kitab ta’limul muta’allim.
Sya’ir tersebut berbunyi ‘Alala tanalul ilma illa bisittatin,saumbika an majmu iha bibayani, dzaka’in, wa khirsin, was tikbarin,wa bulghotin, wa irsyadi ustadzin, wa tuli zamani’ artinya ‘Ilinga gak khasil ilmu anging nem perkara,bakal tak critake kumpule nganti pertelo, rupa limpat, lobo, sabar, ana sangune, lan piwulange guru lan sing suwe mangsane.’ Dalam kitab tersebut, arti sya’ir tersebut hanya dalam bahasa jawa kuno. Sya’ir tersebut kurang lebih mempunyai arti : Ingatlah ! kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan enam syarat :
1) Dzaka’in = limpat yang berarti ‘cerdas’
Guru ngaji saya mengatakan bahwa ‘setiap orang cerdas’. Ada pepatah mengatakan ‘tidak ada orang bodoh,hanya ada orang yang malas’ atau ‘rajin pangkal pandai’. Jadi, setiap orang pasti memiliki syarat ini.
2) Khirsin = lobo yang berarti ‘semangat’
Kalian tidak akan mendapatkan ilmu jika kalian tidak semangat. Kalian harus memiliki semangat kuliah atau sekolah atau ngaji. Inti dari kalimat tersebut adalah semangat belajar. Jika kalian semangat, teman-teman kalian juga pasti akan semangat. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina ! Intinya semangat ! Selain itu, lobo juga memiliki arti ‘bersungguh-sungguh’. Kalian harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Seorang dosen pernah mengatakan ‘tidak 100 persen sama dengan nol persen’. Jangan melakukan hal setengah-setengah ! Kalian harus melakukan setiap hal 100 persen.
3) Istikbarin = sabar yang berarti sabar
Syarat yang ketiga adalah sabar. Kalian harus sabar dalam menuntut ilmu. Ketika kalian menuntut ilmu,kalian pasti mendapatkan berbagai macam cobaan dan mendapatkan berbagai macam permasalahan. ‘Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya’. Jadi, bersabarlah dalam menuntut ilmu !
4) Bulghotin = ana sangu yang berarti ada biaya atau modal
Syarat yang keempat adalah biaya. Pepatah mengatakan ‘uang bukan segalanya tetapi segalanya membutuhkan uang’. Ada orang juga mengatakan ‘buang air aja harus bayar’. Tidak ada suatu hal yang gratis. Menuntut ilmu pun harus membutuhkan modal. Biaya yang dimaksud adalah biaya dalam arti luas. Hal yang dapat kita lakukan adalah meminimalisiasi biaya yang kita gunakan. Hal yang dapat kita lakukan, seperti puasa senin kamis,meminjam buku di perpustakan atau teman (tidak harus membeli buku), dan hal-hal yang tidak membutuhkan banyak biaya. Jadi, dalam menuntut ilmu, kalian harus membutuhkan modal.
5) Irsyadi ustadzin = piwulange guru yang berarti petunjuk guru
Syarat kelima adalah ada petunjuk guru. Ada pepatah mengatakan ‘barang siapa belajar tanpa guru maka gurunya adalah syetan’. Menuntut ilmu harus membutuhkan guru yang mengajari. Jika kalian belajar sendiri,kalian bisa sesat. Selain itu, dalam adab menuntut ilmu, kita harus menghormati guru. Meskipun guru kita galak dan banyak sifat guru kita yang tidak kita suka, kita tetap harus menghormati Beliau. Ilmu kita tidak akan bermanfaat jika kita tidak menghormati dan menghargai Beliau.
6) Tuli zamani = suwe mangsane yang berarti waktu yang lama
Syarat keenam adalah waktu yang lama. Menuntut ilmu membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada ilmu yang didapat secara instan. Sesuatu yang instan itu tidak baik. Imam Syafi’i pernah mengatakan bahwa ‘Setiap bertambah ilmuku, maka semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku’. Jadi, semakin lama kalian menuntut ilmu,semakin kalian tahu bahwa banyak yang belum kalian ketahui.
Semoga tidak ada kesalahan dalam saya menyampaikan dan sumber yang saya pelajari dapat dipercaya.
#Semoga bermanfaat
#Belajar menulis
#Mohon bantu share yaaa ^_^
Sya’ir tersebut berbunyi ‘Alala tanalul ilma illa bisittatin,saumbika an majmu iha bibayani, dzaka’in, wa khirsin, was tikbarin,wa bulghotin, wa irsyadi ustadzin, wa tuli zamani’ artinya ‘Ilinga gak khasil ilmu anging nem perkara,bakal tak critake kumpule nganti pertelo, rupa limpat, lobo, sabar, ana sangune, lan piwulange guru lan sing suwe mangsane.’ Dalam kitab tersebut, arti sya’ir tersebut hanya dalam bahasa jawa kuno. Sya’ir tersebut kurang lebih mempunyai arti : Ingatlah ! kalian tidak akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat kecuali dengan enam syarat :
1) Dzaka’in = limpat yang berarti ‘cerdas’
Guru ngaji saya mengatakan bahwa ‘setiap orang cerdas’. Ada pepatah mengatakan ‘tidak ada orang bodoh,hanya ada orang yang malas’ atau ‘rajin pangkal pandai’. Jadi, setiap orang pasti memiliki syarat ini.
2) Khirsin = lobo yang berarti ‘semangat’
Kalian tidak akan mendapatkan ilmu jika kalian tidak semangat. Kalian harus memiliki semangat kuliah atau sekolah atau ngaji. Inti dari kalimat tersebut adalah semangat belajar. Jika kalian semangat, teman-teman kalian juga pasti akan semangat. Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina ! Intinya semangat ! Selain itu, lobo juga memiliki arti ‘bersungguh-sungguh’. Kalian harus bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Seorang dosen pernah mengatakan ‘tidak 100 persen sama dengan nol persen’. Jangan melakukan hal setengah-setengah ! Kalian harus melakukan setiap hal 100 persen.
3) Istikbarin = sabar yang berarti sabar
Syarat yang ketiga adalah sabar. Kalian harus sabar dalam menuntut ilmu. Ketika kalian menuntut ilmu,kalian pasti mendapatkan berbagai macam cobaan dan mendapatkan berbagai macam permasalahan. ‘Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan umatnya’. Jadi, bersabarlah dalam menuntut ilmu !
4) Bulghotin = ana sangu yang berarti ada biaya atau modal
Syarat yang keempat adalah biaya. Pepatah mengatakan ‘uang bukan segalanya tetapi segalanya membutuhkan uang’. Ada orang juga mengatakan ‘buang air aja harus bayar’. Tidak ada suatu hal yang gratis. Menuntut ilmu pun harus membutuhkan modal. Biaya yang dimaksud adalah biaya dalam arti luas. Hal yang dapat kita lakukan adalah meminimalisiasi biaya yang kita gunakan. Hal yang dapat kita lakukan, seperti puasa senin kamis,meminjam buku di perpustakan atau teman (tidak harus membeli buku), dan hal-hal yang tidak membutuhkan banyak biaya. Jadi, dalam menuntut ilmu, kalian harus membutuhkan modal.
5) Irsyadi ustadzin = piwulange guru yang berarti petunjuk guru
Syarat kelima adalah ada petunjuk guru. Ada pepatah mengatakan ‘barang siapa belajar tanpa guru maka gurunya adalah syetan’. Menuntut ilmu harus membutuhkan guru yang mengajari. Jika kalian belajar sendiri,kalian bisa sesat. Selain itu, dalam adab menuntut ilmu, kita harus menghormati guru. Meskipun guru kita galak dan banyak sifat guru kita yang tidak kita suka, kita tetap harus menghormati Beliau. Ilmu kita tidak akan bermanfaat jika kita tidak menghormati dan menghargai Beliau.
6) Tuli zamani = suwe mangsane yang berarti waktu yang lama
Syarat keenam adalah waktu yang lama. Menuntut ilmu membutuhkan waktu yang lama. Tidak ada ilmu yang didapat secara instan. Sesuatu yang instan itu tidak baik. Imam Syafi’i pernah mengatakan bahwa ‘Setiap bertambah ilmuku, maka semakin bertambah aku tahu akan kebodohanku’. Jadi, semakin lama kalian menuntut ilmu,semakin kalian tahu bahwa banyak yang belum kalian ketahui.
Semoga tidak ada kesalahan dalam saya menyampaikan dan sumber yang saya pelajari dapat dipercaya.
#Semoga bermanfaat
#Belajar menulis
#Mohon bantu share yaaa ^_^
Enam Syarat Mencari Ilmu
Resep rahasia cara belajar yang efektif yaitu dengan menjadi orang yang pandai mengukur kemampuan diri. Apa maksud dari orang yang pandai mengukur kemampuan diri ? Orang yang pandai mengukur kemampuan diri adalah orang yang mengerti batas kemampuan (daya ingat,pemahaman tentang materi,logika dsb) dirinya sendiri. Kunci utamanya adalah pengulangan. Kalian harus mengetahui berapa pengulangan yang harus kalian lakukan agar kalian paham dan ingat dengan suatu materi. Seandainya kalian mengetahui bahawa kalian akan paham dan ingat suatu materi, jika kalian mengulangi membaca dan memahami materi tersebut sebanyak 5 kali, maka kalian harus mengulanginya sebanyak 5 kali. Tidak ada kesuksesan tanpa usaha. Mulailah kenali diri kalian sendiri. Kemapunan setiap orang berbeda-beda. Tidak selalu cara belajar orang lain akan baik jika kalian terapkan. Kenali kemampuan kalian masing-masing. Jika ada materi yang kalian tidak pahami, bertanyalah kepada guru atau teman yang sekiranya dapat membantu. Seorang guru pernah mengatakan bahwa lebih baik malu saat bertanya sekarang daripada malu ketika ditanya tidak bias menjawabnya. Jadi, jadilah orang yang pandai mengukur kemampuan diri. Mulailah kenali diri sendiri dan jadilah orang yang sukses !
Semoga bermanfaat. ^_^
#Belajar menulis.
Resep Rahasia Cara Belajar Efektif
Matematika adalah ilmu dasar yang pertama kita kenal setelah kita mengenal Bahasa. Semua bidang ilmu yang kita pelajari membutuhkan matematika. Sejak kecil kita sudah diperkenalkan matematika. Berhitumg adalah hal yang kita pelajari sewaktu kecil. Semua orang di dunia ini membutuhkan matematika. Bahkan orang yang buta huruf pun membutuhkan matematika, contohnya pada saat mereka transaksi jual beli. Matematika juga dianggap sebagai bahasa Internasional karena baik di Indonesia maupun di Negara lain semua sepakat satu ditambah satu sama dengan dua.
Saya adalah mahasiswa matematika IPB. Di IPB saya lebih mengenal apa itu matematika. Ternyata matematika di IPB tidak seperti apa yang saya fikirkan di SMA. Matematika tidak hanya tentang menghitung tetapi matematika lebih abstrak lagi. Salah satu dosen pernah mengatakan bahwa ada tiga manfaat mempelajari matematika,yaitu berhitung, logika, dan makna. Tiga hal tersebut memiliki suatu tingkatan. Tingkatan teratas adalah makna. Saya ingin mencapai tingkatan makna. Makna yang dimaksud adalah saya berhasil memaknai apa yang saya pelajari di matematika IPB. Saya mengetahui apa yang saya hitung. Sampai saat ini saya masih pada tingkatan berhitung. Pemahaman tentang logika pun masih sangat sedikit, apalagi tentang makna dari matematika itu sendiri.
Mata kuliah pertama saya yang berhubungan dengan Departemen Matematika adalah Kalkulus I. Nilai UTS pertama saya cukup mengejutkan. Saya berharap itu menjadi awal yang baik untuk saya. Sebernarnya matematika adalah pilihan kedua saya pada saat pendaftaran SBMPTN. Pilihan pertama adalah statistika. Saya pernah menyesal diterima di matematika namun sekarang saya bersyukur bisa lebih mengenal matematika.
Saya adalah mahasiswa matematika IPB. Di IPB saya lebih mengenal apa itu matematika. Ternyata matematika di IPB tidak seperti apa yang saya fikirkan di SMA. Matematika tidak hanya tentang menghitung tetapi matematika lebih abstrak lagi. Salah satu dosen pernah mengatakan bahwa ada tiga manfaat mempelajari matematika,yaitu berhitung, logika, dan makna. Tiga hal tersebut memiliki suatu tingkatan. Tingkatan teratas adalah makna. Saya ingin mencapai tingkatan makna. Makna yang dimaksud adalah saya berhasil memaknai apa yang saya pelajari di matematika IPB. Saya mengetahui apa yang saya hitung. Sampai saat ini saya masih pada tingkatan berhitung. Pemahaman tentang logika pun masih sangat sedikit, apalagi tentang makna dari matematika itu sendiri.
Mata kuliah pertama saya yang berhubungan dengan Departemen Matematika adalah Kalkulus I. Nilai UTS pertama saya cukup mengejutkan. Saya berharap itu menjadi awal yang baik untuk saya. Sebernarnya matematika adalah pilihan kedua saya pada saat pendaftaran SBMPTN. Pilihan pertama adalah statistika. Saya pernah menyesal diterima di matematika namun sekarang saya bersyukur bisa lebih mengenal matematika.


