Archive for October 2024
Saya adalah salah satu mahasiswa PPG Calon Guru tahun 2024 Universitas Islam Sultan Agung. Saya memiliki sosok guru ideal yang saya impikan di masa depan. Seorang guru yang menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Seorang guru yang dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Seorang guru yang memerdekaan peserta didik.
Langkah-langkah yang akan saya tempuh untuk mewujudkan impian saya menjadi sosok guru ideal di masa depan. Pertama, saya tidak hanya memperhatikan perkembangan aspek kognitif peserta didik, tetapi saya juga memperhatikan perkembangan aspek afektif dan sosial peserta didik. Kedua, saya akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga peserta didik bebas berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapatnya. Ketiga, saya memahami karakteristik peserta didik, sehingga saya dapat memberikan rancangan pembelajaran yang tepat. Keempat, saya menggunakan variasi metode pembalajaran sehingga saya dapat memfasilitasi semua gaya belajar peserta didik. Kelima, saya memberikan pembelajaran yang inklusif, menghargai berbagai macam keberagaman sehingga peserta didik terlatih untuk menerima keberagaman pada saat mereka terjun ke dalam masyarakat. Keenam, saya selalu mengajar dengan penuh semangat dan senyuman agar peserta didik tertular semangat saya berikan, meskipun mereka belajar pada saat jam-jam terakhir pelajaran.
Dengan langkah-langkah yang sudah saya lakukan, besar harapan saya peserta didik dapat berkembang dalam berbagai aspek, tidak hanya aspek kognitif saja. Mereka bebas mengeksplor dirinya untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya. Tentu hal ini tidak akan terwujud tanpa usaha dan do’a secara kontinu.
Saya Adalah Sosok Guru yang Memerdekaan Peserta Didik
Kendal memiliki nilai-nilai luhur budaya yang sangat sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Nilai luhur yang pertama adalah gotong royong. Masyarakat Kendal memiliki nilai kebersamaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya gotong royong (kerja bakti) dalam membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas umum. Selain itu, banyak budaya-budaya yang mencerminkan kebersamaan, seperti budaya weh-wehan yang hanya ada di Kendal. Nilai luhur yang kedua adalah musyawarah mufakat. Hal ini tercerminkan dalam masyarakat Kendal yang selalu menjunjung tinggi musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan. Nilai luhur yang ketiga adalah hormat kepada orang tua. Masyarakat Kendal selalu menghormati orang yang lebih tua. Di dalam musyawarah, mereka selalu meminta pendapat kepada orang yang dituakan dalam masyarakat.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat dikontekstualkan sesuai dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah Kendal yang relevan menjadi penguatan karakter peserta didik, sebagai anggota masyarakat. Hai ini dapat dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan seni budaya lokal seperti batik, gamelan, dan tari tradisional ke dalam pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Guru juga dapat melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran juga, misalnya mengundang pengrajin batik untuk berbagi pengalaman atau mengajak peserta didik belajar di lingkungan sekitar. Selain itu, guru juga dapat mengajarkan sejarah Kendal yang kaya akan nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan. Hal ini dapat menginspirasi peserta didik untuk memiliki semangat nasionalisme.
Salah satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang akan saya ambil adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada” yang berrti seorang guru harus menjadi teladan. Hal ini dapat diterapkan dengan cara guru memberikan contoh dalam bersikap gotong royong. Misalnya, guru dapat aktif dalam kegiatan membersihkan lingkungan sekolah atau ikut serta dalam kegiatan sosial di masyarakat. Hal ini akan membuat peserta didik beranggapan bahwa guru tidak hanya mengajarkan, namun juga menerapkan apa yang sudah diajarkan kepada peserta didik. Guru juga dapat menjadi panutan dalam menghargai seni budaya lokal, seperti dengan mengenakan batik saat mengajar atau mengajak peserta didik untuk belajar gamelan.
Keterkaitan Nilai-nilai Luhur Budaya di Kendal dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Profesi guru merupakan impian saya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Secara perlahan impian itu hilang karena saya baru menyadari banyak profesi-profesi lain yang menurut saya lebih keren seperti teknisi, programmer, enterprener dan lain sebagainya. Pada saat kelas XII, saya baru menyadari bahwa saya memiliki buta warna parsial. Beberapa jurusan di perguruan tinggi negeri mensyaratkan pendaftar tidak boleh buta warna. Hal ini tentu sangat membuat saya sedih karena saya harus mengubur mimpi saya untuk menjadi seorang teknisi atau programmer. Oleh karena itu, saya memilih jurusan Matematika karena saya memang menyukai pelajaran matematika.
Setelah saya lulus kuliah, saya bingung untuk memilih pekerjaan yang akan saya tekuni. Teman-teman sengkatan saya secara umum sudah menentukan pilihannya. Sebagian dari mereka bekerja di perbankan, asuransi, perusahaan dan institusi pemerintah. Pada suatu hari, saya teringat impian kecil saya. Namun, seorang guru harus berasal dari jurusan pendidikan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi seorang guru di bimbingan belajar.
Setelah beberapa tahun saya mengajar di bimbingan belajar. Saya menyadari bahwa impian itu sangat penting bagi peserta didik. Mereka harus memiliki impian agar mereka lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan. Sebagian dari mereka sudah menentukan impiannya dan sebagian lagi masih bingung menentukan impiannya. Saya ingin menjadi guru yang bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik. Tidak hanya mengajarkan mata pelajaran matematika, saya juga ingin memberikan motivasi-motivasi dan pembekalan kepada mereka dalam menjalani kehidupan setelah lulus sekolah. Dalam pembelajarannya, saya ingin menerapkan pembekalan-pembekalan yang diberikan selama kuliah PPG di Unissula kepada peserta didik di sekolah yang akan saya tempati. Saya ingin menjadi sosok guru yang dirindukan kehadirannya oleh peserta didik.
Saya Adalah Sosok Guru Ideal di Masa Depan
Mulai tahun 2022, pemerintah Indonesia sudah mulai meluncurkan kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Merdeka dengan slogan “Merdeka Belajar”. Konsep “Merdeka Belajar” memiliki filosofi belajar dari Ki Hajar Dewantara yang selama ini kita gaungkan yaitu “Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan contoh), ing madya mangun karso (di tengah membangun motivasi), Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan semangat)”. Seorang guru harus bisa memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. Seorang guru juga harus bisa membangun motivasi dan memberikan dorongan semangat kepada peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kurikulum merdeka merupakan jawaban dari keresahan kita tentang model pendidikan yang membelenggu guru dan peserta didik. Kurikulum merdeka memberikan kebebasan peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Guru juga diberikan keleluasaan untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Salah satu aspek penting dalam kurikulum merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan, minat, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Albert einstein pernah berkata bahwa “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid”. Kemampuan dan bakat setiap peserta didik berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamakan kemampuan dari setiap peserta didik. Dalam pembelajaran di kelas, kita tidak bisa memperlakukan hal yang sama kepada setiap peserta didik. Seandainya kita memiliki beberapa tanaman hias di rumah, tentu kita tidak bisa memberikan perlakuan yang sama. Setiap tanaman hias pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelaran berdiferensiasi sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia.
Adapun beberapa manfaat dari pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan gaya belajar peserta didik tentu akan meningkatkan motivasi belajar mereka. Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat meningkatkan prestasi peserta didik karena dalam pembelajarannya, pembelajaran berdiferensiasi membuat peserta didik dapat berkembang seoptimal mungkin. Pembelajaran diferensiasi juga menuntut kemandirian peserta didik, sehingga hal ini dapat membentuk karakter peserta didik yang bertanggung jawab dan melatih kemandirian peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan. Pembelajaran diferensiasi juga akan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif karena setiap peserta didik dipastikan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar terlepas dari kemampuan dan latar belakang peserta didik. Dalam kelas yang heterogen, pembelajaran diferensiasi memungkinkan guru untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, baik yang belajar cepat maupun lambat.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah kunci untuk mencapai potensi belajar yang maksimal. Dengan memahami gaya belajar kita sendiri dan memilih strategi pembelajaran yang sesuai, kita dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan bermakna. Jadi, jangan ragu untuk merancang jalan belajar Anda sendiri dan jadilah pembelajar sepanjang hayat !
Customize Your Learning Journey and Be Lifelong Learner
Langkah awal melepaskan ‘belenggu’ pada Pendidikan Indonesia dalam upaya mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan peserta didik adalah dengan cara mengubah model pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi model yang berpusat ke peserta didik. Model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik akan memberikan keleluasaan peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Peserta didik akan mendapatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Praktik pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik sering kali malah menghambat perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik. Oleh karena itu, Kita perlu melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta. Dengan melepas belenggu, peserta didik akan lebih siap dan termotivasi dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Beberapa langkah-langkah yang dapat guru lakukan untuk melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik. Guru harus mendorong peserta didik untuk bertanya, berpendapat, dan menemukan jawaban sendiri. Guru menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung, seperti diskusi kelompok, proyek dan presentasi. Guru membuat suasana yang nyaman sehingga peserta didik merasa bebas untuk berpendapat.
Peta jalan Pendidikan Indonesia saat ini menunjukan adanya transformasi pendidikan ke arah yang lebih baik. Pendidikan kita pada masa yang akan datang diprediksi akan menjadi lebih baik lagi. Dengan adanya kebijakan merdeka belajar, diharapkan pembelajaran akan lebih berpusat pada peserta didik dan dapat melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik.












