Menurut saya, hal yang khas dan unik sebagai manusia Indonesia adalah pertama, manusia Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah seperti bahasa jawa, bahasa melayu, bahasa sunda dll. Kedua, manusia Indonesia memiliki adat istiadat yang berbeda bergantung daerahnya. Ketiga, manusia Indonesia mayoritas beragama dan memiliki keberagaman agama. Keempat, manusia Indonesia dikenal ramah dan memiliki budaya gotong royong. Kelima, manusia Indonesia terdiri dari suku dan budaya yang beragam seperti seni tari, musik, dan makanan yang khas.
Sebagai calon pendidik professional, saya perlu mengenal manusia Indonesia dalam proses mendidik karena rancangan pembelajaran harus menyesuaikan karakteristik peserta didik. Sebagai calon pendidik professional, saya juga harus melakukan pembelajaran inklusi dimana setiap peserta didik memiliki hak yang sama, terlepas dari latar belakang peserta didik. Kita tahu bahwa manusia Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Kita juga harus mengajarkan kepada peserta didik pentingnya menerima keberagaman.
Hal yang saya syukuri sebagai manusia Indonesia adalah pertama, manusia Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Hal ini tentu mengajarkan saya untuk selalu menerima keberagaman. Kedua, manusia Indonesia mayoritas beragama Islam, saya sangat bersyukur lahir dari kedua orang tua yang beragama Islam. Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Keempat, Indonesia memiliki banyak keindahan alam. Kelima, masyarakat Indonesia dikenal ramah dan saling tolong-menolong. Keenam, manusia Indonesia sudah merdeka.
Manusia Indonesia
Saya adalah salah satu mahasiswa PPG Calon Guru tahun 2024 Universitas Islam Sultan Agung. Saya memiliki sosok guru ideal yang saya impikan di masa depan. Seorang guru yang menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Seorang guru yang dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Seorang guru yang memerdekaan peserta didik.
Langkah-langkah yang akan saya tempuh untuk mewujudkan impian saya menjadi sosok guru ideal di masa depan. Pertama, saya tidak hanya memperhatikan perkembangan aspek kognitif peserta didik, tetapi saya juga memperhatikan perkembangan aspek afektif dan sosial peserta didik. Kedua, saya akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga peserta didik bebas berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapatnya. Ketiga, saya memahami karakteristik peserta didik, sehingga saya dapat memberikan rancangan pembelajaran yang tepat. Keempat, saya menggunakan variasi metode pembalajaran sehingga saya dapat memfasilitasi semua gaya belajar peserta didik. Kelima, saya memberikan pembelajaran yang inklusif, menghargai berbagai macam keberagaman sehingga peserta didik terlatih untuk menerima keberagaman pada saat mereka terjun ke dalam masyarakat. Keenam, saya selalu mengajar dengan penuh semangat dan senyuman agar peserta didik tertular semangat saya berikan, meskipun mereka belajar pada saat jam-jam terakhir pelajaran.
Dengan langkah-langkah yang sudah saya lakukan, besar harapan saya peserta didik dapat berkembang dalam berbagai aspek, tidak hanya aspek kognitif saja. Mereka bebas mengeksplor dirinya untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya. Tentu hal ini tidak akan terwujud tanpa usaha dan do’a secara kontinu.
Saya Adalah Sosok Guru yang Memerdekaan Peserta Didik
Kendal memiliki nilai-nilai luhur budaya yang sangat sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Nilai luhur yang pertama adalah gotong royong. Masyarakat Kendal memiliki nilai kebersamaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya gotong royong (kerja bakti) dalam membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas umum. Selain itu, banyak budaya-budaya yang mencerminkan kebersamaan, seperti budaya weh-wehan yang hanya ada di Kendal. Nilai luhur yang kedua adalah musyawarah mufakat. Hal ini tercerminkan dalam masyarakat Kendal yang selalu menjunjung tinggi musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan. Nilai luhur yang ketiga adalah hormat kepada orang tua. Masyarakat Kendal selalu menghormati orang yang lebih tua. Di dalam musyawarah, mereka selalu meminta pendapat kepada orang yang dituakan dalam masyarakat.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat dikontekstualkan sesuai dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah Kendal yang relevan menjadi penguatan karakter peserta didik, sebagai anggota masyarakat. Hai ini dapat dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan seni budaya lokal seperti batik, gamelan, dan tari tradisional ke dalam pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Guru juga dapat melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran juga, misalnya mengundang pengrajin batik untuk berbagi pengalaman atau mengajak peserta didik belajar di lingkungan sekitar. Selain itu, guru juga dapat mengajarkan sejarah Kendal yang kaya akan nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan. Hal ini dapat menginspirasi peserta didik untuk memiliki semangat nasionalisme.
Salah satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang akan saya ambil adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada” yang berrti seorang guru harus menjadi teladan. Hal ini dapat diterapkan dengan cara guru memberikan contoh dalam bersikap gotong royong. Misalnya, guru dapat aktif dalam kegiatan membersihkan lingkungan sekolah atau ikut serta dalam kegiatan sosial di masyarakat. Hal ini akan membuat peserta didik beranggapan bahwa guru tidak hanya mengajarkan, namun juga menerapkan apa yang sudah diajarkan kepada peserta didik. Guru juga dapat menjadi panutan dalam menghargai seni budaya lokal, seperti dengan mengenakan batik saat mengajar atau mengajak peserta didik untuk belajar gamelan.




