Archive for 2024
Pancasila sebagai entitas bangsa yakni sebagai sesuatu yang memiliki keberadaan unik dan berbeda. Pancasila sebagai entitas bangsa Indonesia telah memiliki ciri khas tersendiri yakni terdapat keberagaman nilai yang terkandung di dalamnya. Pancasila sebagai identitas nasional memiliki arti yakni Pancasila merupakan ciri khas nasional dari bangsa Indonesia yang menjadikan jati diri bagi bangsa Indonesia. Tanpa Pancasila sebagai identitas nasional, Indonesia akan kehilangan jati dirinya sebagai bangsa yang besar sekaligus bangsa yang majemuk (Nurkhotimah et al, 2024). Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan pedoman hidup yang mengakar dalam setiap aspek kehidupan bangsa, termasuk pendidikan.
Proses pembelajaran yang saya idamkan sesuai dengan Pancasila sebagai pondasi pendidikan Indonesia. Pertama, pembelajaran yang sesuai nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Pancasila adalah dasar negara yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks pembelajaran, nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam setiap aspek kegiatan belajar-mengajar. Kedua, pembelajaran harus kontekstual dan berbasis budaya lokal. Pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching). Dengan pendekatan CRT, peserta didik dapat mengenal budaya lokal dan dapat mengaitkan pembelajaran yang dilakukan dengan budaya lokal. Pembelajaran menjadi lebih menarik dan peserta didik lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Ketiga, pembelajaran harus berorientasi pada keberagaman. Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya. Proses pembelajaran harus mencerminkan penghargaan terhadap keberagaman ini dengan cara menciptakan lingkungan kelas yang inklusif dan bebas diskriminasi. Keempat, menggunakan teknologi untuk untuk mendukung pembelajaran berbasis Pancasila. Tentu saja penggunakan teknologi akan mempermudah guru dalam mengajar. Selain itu, pembelajaran menggunakan teknologi akan menjadi lebih menarik. Kelima, penguatan karakter melalui proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5). Tentu saat ini kegiatan P5 secara umum masih perlu dikaji kembali. Namun, menurut saya banyak hal-hal positif yang didapatkan dari kegiatan P5 ini sehingga kegiatan P5 harus dimaksimalkan kembali dalam hal implementasinya.
Berikut beberapa contoh implementasi yang dapat diterapkan selama pembelajaran. Pertama, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan di awal pembelajaran. Kedua, lagu daerah digunakan sebagai ice breaking. Ketiga, guru memasukan budaya lokal ke dalam materi ajar. Keempat, permasalahan yang diberikan kepada peserta didik lebih kontekstual sesuai dengan latar belakang budaya peserta didik. Kelima, guru atau peserta didik menggunakan pakaian adat selama proses pembelajaran. Keenam, guru memberikan video motivasi yang berkaitan dengan nasionalisme. Ketuju, guru melibatkan masyarakat ke dalam pembelajaran agar pembelajaran lebih kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, peserta didik juga dilatih untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Dengan menjadikan Pancasila sebagai fondasi, proses pembelajaran ini diharapkan mampu untuk menghasilkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik tetapi juga berkarakter kuat, menjunjung nilai-nilai bangsa, dan siap berkontribusi dalam pembangunan Indonesia yang lebih baik.
Daftar Rujukan
Nurkhotimah, R., Angreska, R., Dewi, R. O., Aulia, R. Y., & Anjani, R. (2024). Pancasila Sebagai Entitas dan Identitas Bangsa Indonesia dalam Mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan Pembelajaran yang Berpusat Pada Peserta Didik Di SDN 73 Kota Jambi. Journal Of Social Science Research, 3650-3660.
Proses Pembelajaran yang sesuai dengan Pancasila sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia
Pancasila adalah dasar negara dan ideologi bangsa Indonesia yang di rumuskan oleh para pendiri bangsa karena bangsa Indonesia sangat beragam. Sebagai entitas, pancasila terdiri dari lima sila yang menjadi pedoman hidup manusia Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Adapun kelima sila tersebut adalah pertama, ketuhanan yang maha esa. Kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Ketiga, persatuan Indonesia. Keempat, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan. Kelima, keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, terdapat 45 butir pansila yang digunakan sebagai penghayatan dan pengamalan Pancasila. Sebagai identitas, Pancasila mencermintan karakteristik khas manusia Indonesia yang menjunjung nilai religious, kemanusiaan, persatuan, demokrasi dan keadilan. Pancasila menjadi perekat dalam keberagaman budaya, suku, agama, dan bahasa yang ada di Indonesia.
Profil Pelajar Pancasila adalah karakter-karakter diharapkan dimiliki peserta didik sesuai dengan nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Terdapat enam profil pelajar Pancasila, yaitu beriman bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Profil Pelajar Pancasila bertujuan untuk menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga berkarakter kuat.
Untuk menjadikan Pancasila sebagai fondasi pendidikan Indonesia, pertama, dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikum seperti memperbanyak kegiatan keagamaan, melakukan kegiatan kemanusian, menyanyikan lagi kebangsaan, mengedepankan musyawarah dalam pengambilan keputusan, dan menjunjung tinggi keadilan . Kedua, Guru juga dapat menjadi teladan yang baik dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila di sekolah. Ketiga, guru dapat memberikan pembelajaran yang kontekstual yang berkaitan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Keempat, guru melibatkan masyarakat ke dalam pembelajaran sehingga peserta didik mengetahui bahwa nilai-nilai Pancasila sudah diterapkan ke dalam masyarakat.
Pancasila Sebagai Fondasi Pendidikan Indonesia
Indonesia adalah negara yang kaya akan budaya, nilai-nilai kearifan lokal, dan keberagaman. Oleh karena itu, proses pembelajaran di Indonesia harus mencerminkan identitas manusia Indonesia, yang meliputi nilai-nilai Pancasila, budaya gotong royong, dan keberagaman.
Proses pembelajaran yang saya idamkan sesuai dengan identitas manusia Indonesia. Pertama, pembelajaran yang sesuai nilai-nilai yang ada pada Pancasila. Pancasila adalah dasar negara yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks pembelajaran, nilai-nilai Pancasila harus tercermin dalam setiap aspek kegiatan belajar-mengajar. Kedua, pembelajaran harus kontekstual dan berbasis budaya lokal. Pembelajaran dapat dilakukan dengan pendekatan CRT (Culturally Responsive Teaching). Dengan pendekatan CRT, peserta didik dapat mengenal budaya lokal dan dapat mengaitkan pembelajaran yang dilakukan dengan budaya lokal. Pembelajaran menjadi lebih menarik dan peserta didik lebih termotivasi dalam mengikuti pembelajaran. Ketiga, pembelajaran harus berorientasi pada keberagaman. Indonesia adalah negara dengan keberagaman agama, suku, dan budaya. Proses pembelajaran harus mencerminkan penghargaan terhadap keberagaman ini dengan cara menciptakan lingkungan kelas yang inklusif dan bebas diskriminasi.
Berikut beberapa contoh implementasi yang dapat diterapkan selama pembelajaran. Pertama, guru dan peserta didik menyanyikan lagu kebangsaan di awal pembelajaran. Kedua, lagu daerah digunakan sebagai ice breaking. Ketiga, guru memasukan budaya lokal ke dalam materi ajar. Keempat, permasalahan yang diberikan kepada peserta didik lebih kontekstual sesuai dengan latar belakang budaya peserta didik. Kelima, guru atau peserta didik menggunakan pakaian adat selama proses pembelajaran. Keenam, guru memberikan video motivasi yang berkaitan dengan nasionalisme. Ketuju, guru melibatkan masyarakat ke dalam pembelajaran agar pembelajaran lebih kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Selain itu, peserta didik juga dilatih untuk berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Proses pembelajaran yang sesuai dengan identitas manusia Indonesia adalah pembelajaran yang berbasis nilai-nilai Pancasila, berbasis budaya lokal, dan penghargaan terhadap keberagaman. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip ini, pendidikan di Indonesia tidak hanya mencetak individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter kuat dan berjiwa kebangsaan.
Proses Pembelajaran yang sesuai dengan Identitas Manusia Indonesia
Menurut saya, hal yang khas dan unik sebagai manusia Indonesia adalah pertama, manusia Indonesia memiliki berbagai macam bahasa daerah seperti bahasa jawa, bahasa melayu, bahasa sunda dll. Kedua, manusia Indonesia memiliki adat istiadat yang berbeda bergantung daerahnya. Ketiga, manusia Indonesia mayoritas beragama dan memiliki keberagaman agama. Keempat, manusia Indonesia dikenal ramah dan memiliki budaya gotong royong. Kelima, manusia Indonesia terdiri dari suku dan budaya yang beragam seperti seni tari, musik, dan makanan yang khas.
Sebagai calon pendidik professional, saya perlu mengenal manusia Indonesia dalam proses mendidik karena rancangan pembelajaran harus menyesuaikan karakteristik peserta didik. Sebagai calon pendidik professional, saya juga harus melakukan pembelajaran inklusi dimana setiap peserta didik memiliki hak yang sama, terlepas dari latar belakang peserta didik. Kita tahu bahwa manusia Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Kita juga harus mengajarkan kepada peserta didik pentingnya menerima keberagaman.
Hal yang saya syukuri sebagai manusia Indonesia adalah pertama, manusia Indonesia memiliki keberagaman suku, budaya, bahasa, dan agama. Hal ini tentu mengajarkan saya untuk selalu menerima keberagaman. Kedua, manusia Indonesia mayoritas beragama Islam, saya sangat bersyukur lahir dari kedua orang tua yang beragama Islam. Ketiga, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Keempat, Indonesia memiliki banyak keindahan alam. Kelima, masyarakat Indonesia dikenal ramah dan saling tolong-menolong. Keenam, manusia Indonesia sudah merdeka.
Manusia Indonesia
Saya adalah salah satu mahasiswa PPG Calon Guru tahun 2024 Universitas Islam Sultan Agung. Saya memiliki sosok guru ideal yang saya impikan di masa depan. Seorang guru yang menjadi teladan dan inspirasi bagi peserta didik. Seorang guru yang dapat membangkitkan motivasi belajar peserta didik. Seorang guru yang memerdekaan peserta didik.
Langkah-langkah yang akan saya tempuh untuk mewujudkan impian saya menjadi sosok guru ideal di masa depan. Pertama, saya tidak hanya memperhatikan perkembangan aspek kognitif peserta didik, tetapi saya juga memperhatikan perkembangan aspek afektif dan sosial peserta didik. Kedua, saya akan menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, sehingga peserta didik bebas berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pendapatnya. Ketiga, saya memahami karakteristik peserta didik, sehingga saya dapat memberikan rancangan pembelajaran yang tepat. Keempat, saya menggunakan variasi metode pembalajaran sehingga saya dapat memfasilitasi semua gaya belajar peserta didik. Kelima, saya memberikan pembelajaran yang inklusif, menghargai berbagai macam keberagaman sehingga peserta didik terlatih untuk menerima keberagaman pada saat mereka terjun ke dalam masyarakat. Keenam, saya selalu mengajar dengan penuh semangat dan senyuman agar peserta didik tertular semangat saya berikan, meskipun mereka belajar pada saat jam-jam terakhir pelajaran.
Dengan langkah-langkah yang sudah saya lakukan, besar harapan saya peserta didik dapat berkembang dalam berbagai aspek, tidak hanya aspek kognitif saja. Mereka bebas mengeksplor dirinya untuk berkembang sesuai minat dan bakatnya. Tentu hal ini tidak akan terwujud tanpa usaha dan do’a secara kontinu.
Saya Adalah Sosok Guru yang Memerdekaan Peserta Didik
Kendal memiliki nilai-nilai luhur budaya yang sangat sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara. Nilai luhur yang pertama adalah gotong royong. Masyarakat Kendal memiliki nilai kebersamaan yang tinggi. Hal ini dibuktikan dengan adanya gotong royong (kerja bakti) dalam membersihkan lingkungan atau membangun fasilitas umum. Selain itu, banyak budaya-budaya yang mencerminkan kebersamaan, seperti budaya weh-wehan yang hanya ada di Kendal. Nilai luhur yang kedua adalah musyawarah mufakat. Hal ini tercerminkan dalam masyarakat Kendal yang selalu menjunjung tinggi musyawarah mufakat dalam pengambilan keputusan. Nilai luhur yang ketiga adalah hormat kepada orang tua. Masyarakat Kendal selalu menghormati orang yang lebih tua. Di dalam musyawarah, mereka selalu meminta pendapat kepada orang yang dituakan dalam masyarakat.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat dikontekstualkan sesuai dengan nilai-nilai luhur kearifan budaya daerah Kendal yang relevan menjadi penguatan karakter peserta didik, sebagai anggota masyarakat. Hai ini dapat dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan seni budaya lokal seperti batik, gamelan, dan tari tradisional ke dalam pembelajaran untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya lokal. Guru juga dapat melibatkan masyarakat dalam proses pembelajaran juga, misalnya mengundang pengrajin batik untuk berbagi pengalaman atau mengajak peserta didik belajar di lingkungan sekitar. Selain itu, guru juga dapat mengajarkan sejarah Kendal yang kaya akan nilai-nilai perjuangan dan kepahlawanan. Hal ini dapat menginspirasi peserta didik untuk memiliki semangat nasionalisme.
Salah satu kekuatan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang akan saya ambil adalah “Ing Ngarsa Sung Tulada” yang berrti seorang guru harus menjadi teladan. Hal ini dapat diterapkan dengan cara guru memberikan contoh dalam bersikap gotong royong. Misalnya, guru dapat aktif dalam kegiatan membersihkan lingkungan sekolah atau ikut serta dalam kegiatan sosial di masyarakat. Hal ini akan membuat peserta didik beranggapan bahwa guru tidak hanya mengajarkan, namun juga menerapkan apa yang sudah diajarkan kepada peserta didik. Guru juga dapat menjadi panutan dalam menghargai seni budaya lokal, seperti dengan mengenakan batik saat mengajar atau mengajak peserta didik untuk belajar gamelan.
Keterkaitan Nilai-nilai Luhur Budaya di Kendal dengan Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Profesi guru merupakan impian saya ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Secara perlahan impian itu hilang karena saya baru menyadari banyak profesi-profesi lain yang menurut saya lebih keren seperti teknisi, programmer, enterprener dan lain sebagainya. Pada saat kelas XII, saya baru menyadari bahwa saya memiliki buta warna parsial. Beberapa jurusan di perguruan tinggi negeri mensyaratkan pendaftar tidak boleh buta warna. Hal ini tentu sangat membuat saya sedih karena saya harus mengubur mimpi saya untuk menjadi seorang teknisi atau programmer. Oleh karena itu, saya memilih jurusan Matematika karena saya memang menyukai pelajaran matematika.
Setelah saya lulus kuliah, saya bingung untuk memilih pekerjaan yang akan saya tekuni. Teman-teman sengkatan saya secara umum sudah menentukan pilihannya. Sebagian dari mereka bekerja di perbankan, asuransi, perusahaan dan institusi pemerintah. Pada suatu hari, saya teringat impian kecil saya. Namun, seorang guru harus berasal dari jurusan pendidikan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menjadi seorang guru di bimbingan belajar.
Setelah beberapa tahun saya mengajar di bimbingan belajar. Saya menyadari bahwa impian itu sangat penting bagi peserta didik. Mereka harus memiliki impian agar mereka lebih termotivasi dalam menjalani kehidupan. Sebagian dari mereka sudah menentukan impiannya dan sebagian lagi masih bingung menentukan impiannya. Saya ingin menjadi guru yang bisa menjadi inspirasi bagi peserta didik. Tidak hanya mengajarkan mata pelajaran matematika, saya juga ingin memberikan motivasi-motivasi dan pembekalan kepada mereka dalam menjalani kehidupan setelah lulus sekolah. Dalam pembelajarannya, saya ingin menerapkan pembekalan-pembekalan yang diberikan selama kuliah PPG di Unissula kepada peserta didik di sekolah yang akan saya tempati. Saya ingin menjadi sosok guru yang dirindukan kehadirannya oleh peserta didik.
Saya Adalah Sosok Guru Ideal di Masa Depan
Mulai tahun 2022, pemerintah Indonesia sudah mulai meluncurkan kurikulum terbaru yaitu Kurikulum Merdeka dengan slogan “Merdeka Belajar”. Konsep “Merdeka Belajar” memiliki filosofi belajar dari Ki Hajar Dewantara yang selama ini kita gaungkan yaitu “Ing ngarso sung tulodo (di depan memberikan contoh), ing madya mangun karso (di tengah membangun motivasi), Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan semangat)”. Seorang guru harus bisa memberikan teladan yang baik bagi peserta didik. Seorang guru juga harus bisa membangun motivasi dan memberikan dorongan semangat kepada peserta didik untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Kurikulum merdeka merupakan jawaban dari keresahan kita tentang model pendidikan yang membelenggu guru dan peserta didik. Kurikulum merdeka memberikan kebebasan peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Guru juga diberikan keleluasaan untuk merancang pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Salah satu aspek penting dalam kurikulum merdeka adalah pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi adalah pendekatan pembelajaran yang mengakui bahwa setiap siswa memiliki kebutuhan, minat, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Albert einstein pernah berkata bahwa “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid”. Kemampuan dan bakat setiap peserta didik berbeda-beda. Kita tidak bisa menyamakan kemampuan dari setiap peserta didik. Dalam pembelajaran di kelas, kita tidak bisa memperlakukan hal yang sama kepada setiap peserta didik. Seandainya kita memiliki beberapa tanaman hias di rumah, tentu kita tidak bisa memberikan perlakuan yang sama. Setiap tanaman hias pasti memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembelaran berdiferensiasi sangat penting diterapkan dalam pendidikan di Indonesia.
Adapun beberapa manfaat dari pembelajaran berdiferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Pembelajaran yang relevan dan sesuai dengan gaya belajar peserta didik tentu akan meningkatkan motivasi belajar mereka. Pembelajaran berdiferensiasi juga dapat meningkatkan prestasi peserta didik karena dalam pembelajarannya, pembelajaran berdiferensiasi membuat peserta didik dapat berkembang seoptimal mungkin. Pembelajaran diferensiasi juga menuntut kemandirian peserta didik, sehingga hal ini dapat membentuk karakter peserta didik yang bertanggung jawab dan melatih kemandirian peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan. Pembelajaran diferensiasi juga akan menciptakan lingkungan belajar yang inklusif karena setiap peserta didik dipastikan memiliki kesempatan yang sama untuk belajar terlepas dari kemampuan dan latar belakang peserta didik. Dalam kelas yang heterogen, pembelajaran diferensiasi memungkinkan guru untuk memenuhi kebutuhan semua siswa, baik yang belajar cepat maupun lambat.
Pembelajaran berdiferensiasi adalah kunci untuk mencapai potensi belajar yang maksimal. Dengan memahami gaya belajar kita sendiri dan memilih strategi pembelajaran yang sesuai, kita dapat membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan bermakna. Jadi, jangan ragu untuk merancang jalan belajar Anda sendiri dan jadilah pembelajar sepanjang hayat !
Customize Your Learning Journey and Be Lifelong Learner
Langkah awal melepaskan ‘belenggu’ pada Pendidikan Indonesia dalam upaya mewujudkan Pendidikan yang memerdekakan peserta didik adalah dengan cara mengubah model pembelajaran yang berpusat pada guru menjadi model yang berpusat ke peserta didik. Model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik akan memberikan keleluasaan peserta didik untuk mengembangkan minat dan bakat yang dimiliki. Peserta didik akan mendapatkan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Praktik pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik sering kali malah menghambat perkembangan potensi yang dimiliki peserta didik. Oleh karena itu, Kita perlu melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta. Dengan melepas belenggu, peserta didik akan lebih siap dan termotivasi dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Beberapa langkah-langkah yang dapat guru lakukan untuk melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik. Guru harus mendorong peserta didik untuk bertanya, berpendapat, dan menemukan jawaban sendiri. Guru menggunakan metode pembelajaran yang melibatkan peserta didik secara langsung, seperti diskusi kelompok, proyek dan presentasi. Guru membuat suasana yang nyaman sehingga peserta didik merasa bebas untuk berpendapat.
Peta jalan Pendidikan Indonesia saat ini menunjukan adanya transformasi pendidikan ke arah yang lebih baik. Pendidikan kita pada masa yang akan datang diprediksi akan menjadi lebih baik lagi. Dengan adanya kebijakan merdeka belajar, diharapkan pembelajaran akan lebih berpusat pada peserta didik dan dapat melepaskan diri dari ‘belenggu’ praktik-praktik Pendidikan yang belum memerdekakan peserta didik.
Melepaskan 'Belenggu' pada Pendidikan di Indonesia
Setiap tanggal 2 Mei kita memperingati hari pendidikan nasional yang diambil dari hari kelahiran Ki Hajar Dewantara. Sejak muda Ki Hajar berani menentang pemerintah kolonial Belanda bersama Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo, ia mendirikan Indische Partij pada tahun 1912 yang bertujuan mencapai Indonesia merdeka. Akibat kritiknya pada pemerintah Belanda. Dalam tulisan “Seandainya Aku Seorang Belanda” Ki Hajar diasingkan ke Pulau Bangka. Douwes Dekker dan Cipto Mangunkusumo membela sahabat mereka. Sehingga akhirnya 3 serangkai ini diasingkan bersama sama ke negeri Belanda. Masa pengasingan di Belanda dimanfaatkan Ki Hajar untuk mendalami dunia pendidikan dan pengajaran. Pada tahun 1919, Ki Hajar kembali ke tanah air dan terus mengkritik pemerintahan kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya. Akibatnya, ia pun sering keluar masuk penjara. Tanggal 3 juli 1922 Ki Hajar mendirikan lembaga pendidikan taman siswa di Yogjakarta. Sejak saat itu, Suwardi Suryaningrat memakai nama Ki Hajar Dewantara. Anak anak dari semua kalangan baik ningrat maupun rakyat biasa bisa bersekolah di Taman Siswa. Perguruan ini memiliki semboyan Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso Tut Wuri Handayani. Artinya. Di depan memberi contoh di tengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan. Prinsip ini berlaku untuk semua pamong atau guru dan murid di taman siswa. Teladan yang bisa diambil dari perjuangan Ki Hajar Dewantara bahwa kita harus terus bergerak. Kita harus berpegang teguh pada pripsip yang kita yakini dan terus berjuang pantang menyerah. Pada saat kita dihadapkan pada musibah, kita harus bisa melihat apakah ada hikmah yang dapat kita ambil dari musibah tersebut. Kita harus selalu berfikir positif dalam menghadapi permasalahan hidup. Dalam mencapai tujuan tertentu, kita harus mencoba bekerja sama dengan orang lain untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Guru di Indonesia harus meneruskan perjuangan Ki Hajar Dewantara dengan menerapkan Filosofi Belajar beliau. Guru di depan harus bisa memberikan contoh yang baik pada peserta didik. Guru di tengah harus bisa membangun semangat belajar peseta didik. Guru di belakang harus bisa memberi dorongan kepada peserta didik agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Perkembangan kurikulum di Indonesia sangat dinamis mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum 1947 lebih menekankan pada karakter peserta didik, untuk menanamkan rasa kebangsaan yang kuat pada peserta didik. Kurikulum 1952 lebih menonjolkan bahwa setiap mata pelajaran harus berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat, serta harus dapat membangun kesadaran diri sebagai bangsa Indonesia. Pada Kurikulum 1964, pendidikan lebih dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, dan kesehatan jasmani. Mata. Kurikulum 1968, pelajaran lebih bersifat teoritis, dan tidak selalu mengaitkan dengan kehidupan nyata di masyarakat. Kurikulum 1975 lebih menekankan pada pembelajaran yang efektif dan efisien. Kurikulum 1984 siswa tidak lagi ditempatkan sebagai objek dalam pembelajaran, tetapi ditempatkan sebagai subjek belajar. Kurikulum 1994 memberi banyak penambahan pelajaran, terutama materi pelajaran muatan local. Kurikulum 2004 menggunakan pendekatan kontekstual dan integrasi mata Pelajaran. Kurikulum 2013 kurikulum Berbasis Kompetensi dan Pendekatan Saintifik. Kurikulum Merdeka Belajar bertujuan untuk memperbaharui sistem pendidikan Indonesia agar lebih responsif terhadap perubahan zaman dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan global. Kurikulum Merdeka adalah kurikulum yang paling cocok diterapkan di pendidikan Indonesia sekarang dan masa mendatang.
ANALISIS KRITIS PERJALANAN PENDIDIKAN NASIONAL
Pengalaman yang membuat saya menjadi rindu bersekolah adalah momen kebersamaan saya dengan teman-teman ketika saya mengikuti organisasi OSIS dan Pramuka. Selain itu, momen saat saya mengikuti berbagai macam lomba bersama guru pendamping juga membuat saya rindu bersekolah. Peristiwa yang membuat saya merasa berkembang dan belajar sebagai seorang pembelajar adalah pada saat saya berhasil menjuarai OSN Matematika SMP Tingkat Kabupaten Pemalang dan saya lanjut mengikuti OSN ke Tingkat Provinsi. Pak Min merupakan sosok guru Fisika idola saya. Saya mengidolakannya karena Pak Min guru yang dekat dengan siswa tetapi beliau tidak kehilangan wibawanya sebagai seorang guru. Beliau selalu asik ketika mengajar dan punya cara-cara kreatif saat mengajar ke siswa. Proses belajar yang di dalamnya terdapat motivasi-motivasi yang berdampak dalam kehidupan sehari-sehari. Pada saat kuliah, salah seorang dosen di setiap akhir perkuliahan selalu memberikan motivasi-motivasi kepada mahasiswanya dan menurut saya motivasi tersebut berdampak terhadap saya sampai saat ini. Jadi, di dalam kelas, kita tidak hanya mengajar melainkan kita juga memberikan motivasi ke peserta didik. Karena seorang guru bermanfaat untuk banyak orang. Saya ingin bermanfaat untuk banyak orang. Saya menjadi guru yang berpihak pada peserta didik dengan cara saya dekat dengan peserta didik. Ketika saya dekat dengan peserta didik dan berhasil masuk ke dunianya, saya yakin peserta didik akan lebih terbuka tentang dirinya dan seorang guru dapat tahu langkah yang tepat untuk menuntun dia dalam mengembangkan minat dan bakatnya.
Saya menjadi guru karena saya ingin memiliki profesi yang bermanfaat untuk banyak orang. Oleh karena itu, saya harus menggali konsep-konsep yang ada dalam fiilosofi pendidikan ini agar saya dapat memaknai dan menghayati peran saya sebagai seorang pendidik yang bermanfaat untuk murid-murid saya nanti. Saya yakin setelah saya belajar mengenai Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Nasional, saya dapat memiliki cara pandang yang lebih baik mengenai bagaimana mendidik siswa dengan baik. Seorang guru harus bisa menuntun peserta didik agar suatu saat nanti mereka menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat.
Strategi saya dalam mempelajari Mata Kuliah ini adalah pertama, saya harus meluruskan niat saya terlebih dahulu bahwa saya ingin menjadi pendidik yang baik. Kedua, saya tidak boleh menunda-nunda waktu dalam mengerjakan tugas apapun yang diberikan kepada saya. Ketiga, saya harus bisa membagi waktu dan menentukan skala prioritas. Hal-hal yang dibutuhkan agar saya dapat mempelajari mata kuliah ini dengan baik yaitu kesabaran, ketekunan, do’a, motivasi diri, dukungan moril dan materil.
Langkah-langkah konkrit yang dibutuhkan untuk mempelajari mata kuliah ini dengan baik adalah pertama, saya harus mempersiapan apa yang dibutuhkan sebelum mengikuti mata kuliah ini seperti laptop dsb. Kedua, saya harus mempelajari terlebih dahulu topik yang akan diajarkan di LMS sebelum kelas di mulai, sehingga pada saar di kelas saya mendapatlan pemahaman yang lebih baik. Ketiga, saya harus selalu fokus di dalam kelas dan memahami apa yang disampaikan oleh dosen. Keempat, saya harus selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen sebaik mungkin. Kelima, saya mengkaji kembali apa yang saya pelajari di LMS dan di kelas, kemudian saya mencoba menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran yang akan saya lakukan nantinya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan mata kuliah ini adalah satu semester. Namun, waktu yang dibutuhkan untuk selalu merefleksikan diri sendiri dalam mempelajari filosofi pendidikan adalah sepanjang hayat.
Saya menjadi guru karena saya ingin memiliki profesi yang bermanfaat untuk banyak orang. Oleh karena itu, saya harus menggali konsep-konsep yang ada dalam fiilosofi pendidikan ini agar saya dapat memaknai dan menghayati peran saya sebagai seorang pendidik yang bermanfaat untuk murid-murid saya nanti. Saya yakin setelah saya belajar mengenai Mata Kuliah Filosofi Pendidikan Nasional, saya dapat memiliki cara pandang yang lebih baik mengenai bagaimana mendidik siswa dengan baik. Seorang guru harus bisa menuntun peserta didik agar suatu saat nanti mereka menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat.
Strategi saya dalam mempelajari Mata Kuliah ini adalah pertama, saya harus meluruskan niat saya terlebih dahulu bahwa saya ingin menjadi pendidik yang baik. Kedua, saya tidak boleh menunda-nunda waktu dalam mengerjakan tugas apapun yang diberikan kepada saya. Ketiga, saya harus bisa membagi waktu dan menentukan skala prioritas. Hal-hal yang dibutuhkan agar saya dapat mempelajari mata kuliah ini dengan baik yaitu kesabaran, ketekunan, do’a, motivasi diri, dukungan moril dan materil.
Langkah-langkah konkrit yang dibutuhkan untuk mempelajari mata kuliah ini dengan baik adalah pertama, saya harus mempersiapan apa yang dibutuhkan sebelum mengikuti mata kuliah ini seperti laptop dsb. Kedua, saya harus mempelajari terlebih dahulu topik yang akan diajarkan di LMS sebelum kelas di mulai, sehingga pada saar di kelas saya mendapatlan pemahaman yang lebih baik. Ketiga, saya harus selalu fokus di dalam kelas dan memahami apa yang disampaikan oleh dosen. Keempat, saya harus selalu mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen sebaik mungkin. Kelima, saya mengkaji kembali apa yang saya pelajari di LMS dan di kelas, kemudian saya mencoba menerapkannya dalam kegiatan pembelajaran yang akan saya lakukan nantinya. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan mata kuliah ini adalah satu semester. Namun, waktu yang dibutuhkan untuk selalu merefleksikan diri sendiri dalam mempelajari filosofi pendidikan adalah sepanjang hayat.





















